
Dua Lansia Jaga Pupuk orang dirumah Reot
terkumpul dari target Rp 130.000.000
TINGGAL BERDUA DI GUBUK REOT, KEK SEMEN DAN ISTRI MENCARI RUPIAH DENGAN MEMUNGUT SAMPAH
Tinggal di gubuk reot, atap rumahnya pun sudah lama bocor dan sudah tidak layak ditempati lagi, ketika hujan kehujanan dan ketika panas kepanasan, dinding rumahnya yang berlapiskan anyaman bambu sebagian besar telah berlubang, dan kasur yang digunakan pun hanya beralaskan 1 karpet plastik dan 1 bantal yang telah usang digunakan tidur berdua.
“Sebentar dulu, kaki saya lemas” kata kakek sambil mengajak istri berhenti di tengah jalan
Namanya Kek Semen, ia dan sang istri setiap harinya memungut sampah plastik untuk dijual demi dapat makan setiap harinya. Kakek Semen yang hidup berdua dengan sang istri setiap hari menenteng karung sebagai wadah untuk memungut sampah plastik dan berjalan dengan satu pasang sandal untuk digunakan berdua, kadang mereka bergantian kadang juga mereka berbagi masing-masing 1 sandal. Namun tidak hanya berisi sampah plastik, mereka juga mengangkut kayu kering atau bekas pelepah kelapa di pinggir jalan untuk mereka gunakan memasak.
Di usia yang sudah renta, mereka hanya berjalan berkeliling kampung untuk mengumpulkan rongsokan. Namun setiap 10 meter mereka harus berhenti untuk beristirahat di tengah jalan karena kelelahan. Tidak hanya itu, harga rongsokan yang hanya dua ribu perkilonya, mereka hanya mendapatkan 4 ribu saja setiap harinya. Sehingga mereka hanya membeli beras setengah kilo saja untuk 2 hari sekali.
Selain itu, untuk dapat merasakan makan dengan lauk pauk, Kek Semen dan Sang Istri menggunakan rumahnya yang hanya sepetak untuk menyimpan pupuk orang berkarung-karung yang nantinya akan diberikan upah sekali seminggu hanya 10 ribu sampai 15 ribu saja karena rumahnya yang dekat dengan sawah. Setiap mendapatkan upah Sang Istri langsung membeli lauk untuk mereka makan bersama.
Setiap hari Kakek dan Nenek memasak menggunakan tungku kayu di dalam gubuk yang sempit dan atapnya yang hampir roboh, mereka harus berusaha untuk menyalakan api dengan kayu yang tidak terlalu kering dan mereka juga harus tetap waspada karena atap yang semakin hari semakin menurun.
Namun semua itu tak membuat mereka berhenti berdo’a dan berikhtiar untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka juga selalu berdoa agar tetap diberikan ketenangan dan rasa syukur serta sabar yang selalu menyertai mereka. Yuk, OrangBaik mari kita ulurkan tangan untuk membantu Kek Semen dan Sang Istri untuk menjalani masa tuanya dengan lebih mudah.
Salurkan sedekah terbaik dengan cara:
- Klik tombol Donasi
- Masukan nominal sedekah
- Pilih metode pembayaran
- Selesaikan dengan lanjutkan pembayaran
- Dapatkan update dan laporan program melalui email/whatsapp yang Sahabat cantumkan
Kantor Yayasan Amal Bakti Dunia Islam
Jl. Panji Tilar Negara 150A. Tanjung Karang Kota Mataram-Lombok, Nusa Tenggara Barat
Informasi & Konfirmasi Donasi
Whatsapp Center: 087864556406
Izin Lembaga Kesejahteraan Sosial
- AKTA PENDIRIAN yayasan Amal Bakti Dunia Islam Nusantara No. 27 tanggal 14 Agustus 2023
- Keputusan menteri hukum dan HAM RI. No. AHU-0019124. AH.01.12.TAHUN 2023 Tanggal 22 Agustus 2023
- Izin LKS kota Mataram No. 527/015-LKS/2023 tanggal 18 Oktober 2023

Dua Lansia Jaga Pupuk orang dirumah Reot
terkumpul dari target Rp 130.000.000