
Makan nasi pakai garam, bantu musa meraih impiannya
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Sesekali kita harus melihat bagaimana nasib anak-anak kecil yang hidup di pedalaman, kesulitan seperti apa yang mereka alami sejauh ini dan bagaimana perjuangan mereka untuk bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak seusianya.
Dek Musa (7) seorang anak laki-laki yang berjuang untuk bisa bersekolah dan memiliki masa depan yang terjamin. Musa adalah anak yang berprestasi di sekolahnya, baru-baru ini ia diberikan penghargaan sebagai siswa kedua terbaik di sekolah. Meskipun ini membanggakan, kejadian sedih tak luput menyertai kisahnya, Musa sering sekali di bully oleh teman-temannya hanya karena tidak memiliki seorang Ayah, sedangkan Ayah Musa sudah lama meninggal karena sakit yang dideritanya.
“Padahal ayah Musa sudah meninggal, tapi mereka selalu jadikan itu bahan ejekan, Musa gak punya ayah katanya, gitu.” ujar Musa ketika menceritakan bagaimana ucapan menyakitkan yang ia terima. Selain tidak memiliki seragam layaknya teman-teman sebaya, Musa juga kesulitan membayar uang SPP, meskipun di cicil tapi tidak selamanya ibu Musa memiliki uang untuk membayarnya, bahkan ibunya harus mengutang agar SPP dek Musa bisa terpenuhi.
Jika Musa ingin jajan ia kadang membantu warga sekitar, menggembala domba, memberi makan hingga mencarikan rumput ke hutan, dengan bayaran 2000 ribu setiap orang membutuhkan tenaga Musa. Sedangkan sang ibu bekerja sebagai penjual ikan di pasar, setiap bekerja ibu Musa akan meninggalkan ketiga putranya pada sang nenek, bekerja di kabupaten lain dan pulang dalam beberapa kali sehari membawa uang 20-50 ribu.
Musa dan kedua saudaranya tinggal di sebuah rumah yang benar-benar memprihatinkan, lubang dimana-mana, tempat penampungan yang rubuh sehingga membuat mereka tiap kali BAB numpang di rumah tetangga atau di semak-semak.
Karena sang ibu yang memiliki hutang ke rentenir dan harus membayar per minggunya sebesar Rp 150.000, membuat Musa dan keluarga juga kesulitan untuk makan sehari-hari. Bahkan pernah dalam satu ketika Musa dan keluarga tidak makan sama sekali, saking tidak memiliki biaya yang lebih untuk membeli nasi dan lauknya.
“Makasih ya kak, berkat kakak Musa sekeluarga bisa makan enak, bukan cuman pake nasi campur garam dan air,” ujar Musa ketika ia dibuatkan berbagai macam jenis masakan rumahan. Karena biasanya Musa dan kedua saudaranya hanya akan makan nasi dicampur garam dan air, atau jika tidak ada garam, ia akan merebus asam dan menjadikannya lauk, lalu menyirami nasinya menggunakan bekas rebusan asam. Hampir setiap hari Musa melakukan itu untuk mengganjal perutnya agar tidak kelaparan lagi.
Hai sahabat berdampak, mari sebarkan campaign ini dan berdonasi untuk membantu Abah Suherman. Bantuan donasi akan disalurkan untuk paket pangan, modal usaha serta bantuan lainnya. Kalian dapat berdonasi dengan cara :
- Klik “Donasi Sekarang;
- Masukan nominal donasinya;
- Pilih metode pembayaran;
- Dapatkan laporan via email.
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Fundraiser dan merupakan bagian dari program dan campaign utama berjudul Semua Berhak Belajar
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
Makan nasi pakai garam, bantu musa meraih impiannya
terkumpul dari target Rp 50.000.000