
Menanggung Beban Belasan Kilometer Juang Lansia 95thn
terkumpul dari target Rp 20.000.000
Berjalan menanggung kerupuk belasan kilometer sudah menjadi rutinitas Abah Olib (95) setiap harinya. Di usianya yang hampir satu abad, beliau masih berjuang mencari nafkah dengan berjualan kerupuk gurilem. Meskipun tubuhnya sudah renta, semangatnya tak pernah luntur demi menghidupi dirinya dan sang istri di kampung. “Selama masih bisa jalan, Abah akan terus jualan, Nak,” ujarnya dengan senyum penuh keteguhan.
Setiap hari, Abah Olib memulai perjalanannya sejak subuh. Setelah selesai sholat, ia bersiap-siap berangkat ke kota untuk menjajakan dagangannya. Perjalanan yang ditempuh tidaklah mudah, ia harus naik angkot atau bus selama 1-2 jam agar sampai di tempatnya berjualan. “Abah berangkat pagi-pagi biar dagangan cepat laku, Nak, soalnya kalau kesiangan takut gak kebagian pelanggan,” katanya sambil merapikan kerupuk dalam wadahnya.
Dari pagi hingga sore, Abah berjalan menyusuri gang-gang dan trotoar dengan harapan ada yang membeli kerupuknya. Namun, keuntungan yang ia dapat tidaklah besar, hanya sekitar 20 ribu rupiah per hari. Jumlah itu pun masih harus dipotong untuk ongkos transportasi pulang-pergi ke kampung. “Ya namanya usaha, Nak, kadang laku, kadang enggak, yang penting Abah usaha sendiri, gak mau minta-minta,” ujarnya dengan nada tegar.
Lelah dan sakit di kaki sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Di usianya yang sudah lanjut, ia sering merasa pegal saat berjalan jauh, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain tetap berjualan. Sesekali, ia beristirahat di pinggir jalan sebelum melanjutkan langkahnya lagi. “Kadang kalau udah capek banget, Abah duduk dulu sebentar di pinggir jalan, biar nanti kuat jalan lagi,” katanya sambil mengelus lututnya yang mulai terasa nyeri.
Sudah delapan tahun lamanya Abah Olib berjualan kerupuk keliling di kota. Namun, kesejahteraan belum berpihak padanya. Meski hidup serba pas-pasan, ia tetap bersyukur karena masih diberi kesehatan untuk terus bekerja. “Abah nggak tahu sampai kapan bisa begini, tapi selama masih bisa jalan, Abah akan terus berusaha,” ujarnya penuh harap.
#TemanBerbagi, Abah Didi menjadi contoh bagi kita semua bahwa dalam hidup kita harus tetap berjuang demi meraih kesejahteraan. Jika ada modal, Abah ingin sekali memiliki warung di kampungnya sendiri agar beliau tidak lagi berpisah dengan keluarganya dan bisa mendapatkan keuntungan yang lebih layak lagi

Menanggung Beban Belasan Kilometer Juang Lansia 95thn
terkumpul dari target Rp 20.000.000