
Mengais Rezeki dengan Jual Permen Kapas di Usia 65Thn
terkumpul dari target Rp 20.000.000
Di usia 65 tahun, Abah Pandi masih harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Setiap hari, beliau berkeliling menjajakan arum manis dengan berjalan kaki, mengangkat beban dagangan seberat 30-40 kilogram. Perjuangan ini dimulai sejak siang hingga maghrib, namun hasil yang diperoleh seringkali tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.
Pendapatan harian Abah Pandi dari berjualan arum manis hanya berkisar antara 15.000 hingga 20.000 rupiah. Jumlah ini jauh dari cukup untuk menafkahi istri dan empat anaknya, tiga di antaranya masih bersekolah. Meskipun telah berkeliling seharian, seringkali dagangannya tidak laku. "Gini aja nak, dari siang sampai sekarang baru laku satu, keliling aja tadi nggak ada yang beli," keluh Abah Pandi.
Keterbatasan penghasilan membuat keluarga Abah Pandi harus hidup dengan sangat sederhana. Mereka seringkali hanya mampu menyantap nasi dengan tahu atau tempe, dan tak jarang hanya dengan garam. Untuk menghemat, Abah Pandi biasanya hanya makan sekali sehari, sementara di pagi hari beliau cukup dengan secangkir kopi. "Sehari cuma sekali aja nak, kalau pagi Abah cukup minum kopi aja biar nanti malam bisa makan bareng sama istri dan anak-anak," ungkapnya.
Di usia yang seharusnya menjadi masa istirahat, Abah Pandi masih harus menempuh belasan kilometer setiap hari dengan beban berat di pundaknya. Kondisi fisiknya yang semakin menua tidak menghalangi semangatnya untuk terus berusaha demi keluarganya. Namun, dengan pendapatan yang minim, impian untuk memiliki usaha yang lebih stabil terasa sulit dicapai.
#TemanBerbagi Abah Pandi memiliki harapan untuk membuka usaha warung agar tidak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya. Dengan adanya warung, beliau berharap dapat memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya. Namun, keterbatasan modal menjadi penghalang utama.

Mengais Rezeki dengan Jual Permen Kapas di Usia 65Thn
terkumpul dari target Rp 20.000.000