
Di Balik Anyaman Bambu Lansia yang Tak Kenal Lelah
terkumpul dari target Rp 20.000.000
Setiap hari menahan lelahnya berjalan keliling belasan kilometer menggunakan tongkat, Abah Sobihin yang kini sudah menginjak usia 72 tahun tetap berusaha mencari nafkah dengan berjualan perabot anyaman bambu yang kini sudah jarang ditemui.
Tubuhnya yang sudah renta ini harus dipaksakan mencari nafkah agar kebutuhan sehari hari nya bisa terpenuhi. Panasnya matahari dan dinginnya hujan tidak menjadi penghalang untuk Abah tetap berjualan.
“Mata kanan abah udah tidak bisa melihat dengan jelas, jalan pun abah udah ga kuat lama lama”
Sesuai yang dituturkan Abah sobihin, kakinya tidak bisa berjalan dengan baik sehingga abah memerlukan tongkat untuk membantunya berjalan. Abah berjualan dari pagi hari hingga sore hari. Kadang perabot yang abah jual tidak laku sama sekali.
“Dari hasil jualan abah cuma dapet 10 ribu, itu juga kalau ada yang beli. Kalau gaada yang beli abah makan seadanya aja”
Abah hanya tinggal sebatang kara saja, istrinya sudah meninggal 13 tahun yang lalu dan ketiga anaknya pergi merantau. Jika Abah tidak mempunyai uang sama sekali terkadang beliau menukarkan barang yang dijual ditukar menjadi beras agar bisa makan.
#TemanBerbagi, di usianya yang kini sudah menginjak 72 tahun Abah Sobihin masih harus bersusah payah mencari nafkah untuk sehari hari. Bahkan sudah beberapa hari ini jualan abah belum laku. Jika punya modal tambahan untuk usaha beliau ingin sekali mempunyai usaha yang layak agar tidak perlu berjalan jauh dari kampung ke kampung

Di Balik Anyaman Bambu Lansia yang Tak Kenal Lelah
terkumpul dari target Rp 20.000.000