
HIDUP DIHUTAN !! ANAK PEMBUAT ARANG IDAP HIDROSEFALUS
terkumpul dari target Rp 80.000.000
Sejak usia 1 tahun Kepalanya kian membesar yang membuat orang tuanya khawatir. Sampai akhirnya Bu Tumi (60 th.) bersama sang suami membawa anaknya ke Dokter dan ternyata diketahui ada gumpalan cairan yang pada sekitar otak Danik Setyianingrum. Hingga akhirnya Bu Tumi sekeluarga tau bahwa anak ketiganya mengidap penyakit Hidrosefalus.
“Usia Danik kini sudah 10 tahun ia menahan sakit dan ketidak berdayaan itu, tiap hari Danik hanya bisa terbaring di kamarnya.” Ujar ibunya
Selain kepalanya yang membesar, tangan dan kaki danik kaku tak dapat lurus atau bergerak lemas. dan itu terjadi semenjak danik mengidap penyakit Hidrosefalus.
“kata perawat yang merawat danik tangannya kaku ya karena kurangnya gizi danik, yang mengakibatkan minimnya pergerakkan yang dilakukan danik, begitupun dengan kakinya.”
Danik adalah anak ketiga dari lima bersaudara. dua kakaknya telah menikah dan tinggal bersama istrinya masing-masing. kedua adik danik masih duduk dibangku sekolah dasar dan yang terakhir masih TK.
Dengan kondisi yang serba apa adanya, bu Tumi ibu dari Danik Setyaningrum. lebih mementingkan kebutuhan susu Danik daripada kebutuhan seperti makannya sendiri atau kebutuhan jajan adek-adek danik. Bu Tumi 1 bulan bisa habis membeli susu untuk sampai 4 bungkus susu yang harganya kisaran Rp.100.000 perbungkus. Tiap harinya Danik hanya mengkonsumsi makanan Nasi puith yang dicampur dengan pisang. hanya itu saja 3x sehari setiap hari.
“tak jarang adek-adek danik terutama si Dewi ini yang masih berusia 5 tahun minta uang untuk beli jajan, kalau ada ya bisa langsung saya kasih, pas tidak ada ya saya sedih langsung dewi saya ajak untuk menghibur kakaknya (Danik) tapi Alhamdulillah anak-anak pinter, memahami sekali kondisi kalau pas lagi tidak ada uang.” ungkap bu tumi sembari memeluk anaknya yang paling kecil Dewi.
Sedangkan Bu Tumi dan Suaminya Hanya bekerja sebagai Pembuat Arang, yang penghasilannnya tak seberapa banyak yang hanya cukup untuk makan dan susu Danik.
“Satu karung Arang ini laku 30rb. Sekali proses biasanya ya dapat 3-4 karung, tapi proses pembuatan Arang sangat lama kurang lebih 3-4 hari baru siap jual”
Mulai dari mencari kayu di hutan kemudian dibawa pulang lalu kayu dipotong-potong hingga dibakar sampai 24 jam. tak boleh kurang apalagi lebih, resikonya jika dibakar terlalu lama akan menjadi abu.
“kami membuat arang dibelakang rumah sendiri, jika kami repot membakar/memotong kayu Danik akan dijaga oleh adeknya.” ujar ibunya.
Semenjak diusia 10 Tahun ini Danik sudah tak pernah lagi periksa ke dokter/perawat. terakhir kali Danik periksa ke puskesmas terdekat ialah waktu Danik masih berusia 5 Tahun.
“sekarang yang kami berikan hanya mencukupi kebutuhan susu dan nasi itu saja, sudah lama danik tak mengkonsumsi obat resep dokter.”
Bu Tumi hanya tinggal diatas Tanah Milik PERHUTANI, sumber kehidupannya hanya dari Hutan yang untuk mencari sumber air saja susah dan sangat jauh. Semoga diberikan kesabaran serta ketabahan untuk Bu Tumi dalam merawat Danik Setiyaningrum serta adiknya yang masih kecil. Untaian doa tak henti-henti bu tumi panjatkan, meminta bantuan Sang Pencipta jika suat saat ada keajaiban yang dapat mengangkat penyakit anaknya.

HIDUP DIHUTAN !! ANAK PEMBUAT ARANG IDAP HIDROSEFALUS
terkumpul dari target Rp 80.000.000