
kisah pilu nanang dan ayahnya dilorong kehidupan
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Maaf ya Mas kalau saya menyambut sampean di area kebun seperti ini. Maaf juga kalau mungkin sampean jijik melihat kondisi tubuh saya.” ucap Pak Tamin.
Benar, kami memang kaget saat pertama kali melihat kondisi Pak Tamin dan Nanang.
Mengapa beliau harus tiduran di area kebun?
Bahkan terlihat Nanang harus mengambil air dengan botol di sungai.
memang beginilah kondisinya.
Sejak lahir kondisi tubuh Pak Tamin memang berbeda dari manusia pada umumnya.
Namun, dulu Pak Tamin sempat bekerja menjadi buruh ladang.
Sedihnya di tahun 2008 saat beliau harus menebang pohon bambu, peristiwa itu tak bisa dihindarkan.
Tubuh Pak Tamin kehilangan keseimbangan hingga Ia terjatuh dan membuat tulang punggungnya bermasalah hingga kini.
Bahkan untuk berjalan pun Pak Tamin harus dibantu dengan dua tongkat.
Tak lama, kesedihan bertambah saat Istri yang beliau cintai harus kembali ke Rahmatullah.
Hanya anak semata wayangnya yang bernama Nanang menjadi harta paling berharga dalam hidupnya.
Setiap hari Nanang dengan telaten dan sabar merawat Pak Tamin.
Meskipun mereka setiap siang hari harus berada di kebun sebab kondisi rumah yang engap dan kurang sehat bagi kesehatan.
Usia Nanang menginjak 18 tahun atau sedang duduk di kelas 3 SMK.
Sayang, sudah 1 tahun ini Nanang dengan terpaksa harus berhenti sekolah akibat terkendala biaya.
“Saya ingin bisa bersekolah lagi, Kak. Saya ingin mewujudkan cita-cita saya.” cerita Nanang.
Keinginan itu diwujudkan Nanang dengan rutin membaca buku pelajarannya dulu yang sudah usang sambil memijit tubuh sang Ayah.
Setiap harinya, Pak Tamin dan Nanang harus dibantu tetangga untuk tetap bisa makan.
Tak ingin terlalu merepotkan tetangga, Pak Tamin dan Nanang mencoba untuk berkebun.
Sayuran seperti bayam dan cabai beliau tanam di depan rumah.
“Saya ngga tau lagi harus membalas kebaikan tetangga saya dengan hal apa, Mas. Dengan keterbatasan, saya coba menanam sayuran untuk bisa dimakan.” pungkas Pak Tamin.
Pasalnya, tak semua tetangga bisa menerima kondisi Pak Tamin dan Nanang.
Bahkan mereka menganggap kondisi Pak Tamin dan Nanang adalah sebuah kutukan sehingga tubuhnya berbeda dari manusia pada umumnya.
Tak ingin sang Ayah kelelahan dan kesehatannya terganggu, Nanang dengan sigap membantu Pak Tamin.
Ia dengan hati-hati mengambil air di sungai.
Air itu sebagian untuk menyiram tanaman dan membersihkan kotoran sang Ayah.
Ya, akibat tak ada MCK yang layak, Pak Tamin terpaksa buang air di kebon.

kisah pilu nanang dan ayahnya dilorong kehidupan
terkumpul dari target Rp 50.000.000