
Tempat Mondok Belasan Santri Ustadz Yadi Hampir Roboh
terkumpul dari target Rp 100.000.000
“Terbiasa membantu sampai tidak biasa meminta bantuan” mungkin benar adanya, ini juga yang dialami Yadi / ustadz Yadi (51 tahun), 6 tahun menjadi relawan membantu disabilitas serta mengurusi umat dengan pengabdiannya menjadi guru ngaji di madrasah. Namun dibalik itu semua kondisi kehidupan ustadz Yadi dan keluarga terancam karena rumahnya hampir roboh akibat sudah sangat lapuk.
Berita rumah roboh Ustadz Yadipun sudah terkonfimasi dan diunggah pada web Bandungsatu yang menceritakan kondisi ustadz yadi dan rumahnya. “Ustadz Yadi mengaku, saat hujan tiba rumah yang dihuninya tersebut kerap banjir. Apalagi bersamaan dengan angin kencang yang membuatnya kian khawatir rumahnya bisa ambruk secara permanen.” dikutip dari Bandungsatu.
Ustadz Yadi menerima rumah yang sekarang ia tinggali dari kedua orang tuanya yang usianya sudah 20 puluh tahun dan tidak pernah ada renovasi sejak dibangun, dan sudah menempati rumah itu kurang lebih 30an tahun.
Kini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, banyak bagian-bagian yang tidak boleh dilewati karena lantai kayunya sudah sangat lapuk dan berlubang, “jangan duduk di situ pa, lantainya sudah lapuk dan berlubang hawatir jebol.”
Selain madrasah, rumah ustadz Yadi juga sering menjadi tempat mengaji dan menginap belasan santrinya dari luar daerah, namun dengan kondisi rumahnya kini membuat beberapa jadwal santrinya harus bergeser tempat dan tidak bisa menginap. Selain itu ustadz Yadi juga memiliki istri dan 8 orang anak yang tinggal dirumah tidak layak huni dan memprihatinkan.
Bukan tak ingin memperbaiki rumahnya, namun karena penghasilannya jauh dari cukup.
Bekerja sebagai pengurus kambing dengan sistem maro (bagi hasil), aktivitas ustadz Yadi sehari-hari mengarit rumput, selesai di ladang dan kandang ustadz Yadi mulai bersiap mengajar di madrasah.
“Dari madrasah ngga narif, siapa aja yang mau ngaji dan belajar, paling ambil sedikit dari kencleng saja”, dibantu sang istri membungkusi basreng usaha tetangganya yang di bayar 20rb per satu bal basreng bermodalkan cempor dan minyak bekas, kebutuhan keluarga bisa sedikit disediakan untuk anak-anaknya sekolah dan keperluan lainnya.
“Kalo ada rezeki mah prioritas buat nyicil beli bahan bangunan, khawatir anak-anak ketimpa, yang depan aja kalo ngga di topang bambu udah ngaplek.”

Tempat Mondok Belasan Santri Ustadz Yadi Hampir Roboh
terkumpul dari target Rp 100.000.000