
30 Tahun Tahan Sakit Tumor Bantu Supir Angkot Sembuh
terkumpul dari target Rp 70.000.000
"Kadang ada yang tutup mata, ada yang buang muka, entah takut atau jijik dengan kondisi Bapak. Bahkan, ada juga yang langsung turun, tidak jadi naik, hanya karena melihat tumor besar di leher ini," ungkap Pak Maman, sambil berusaha menutupi rasa sakitnya dengan senyuman.
Pak Maman, seorang supir angkot berusia 67 tahun, telah menghabiskan 50 tahun hidupnya menjadi supir angkot. Namun, perjalanan hidupnya semakin berat, bukan hanya karena usia yang mulai renta, tapi juga karena tumor besar di lehernya yang sudah bersarang selama lebih dari 30 tahun.
Tumor itu awalnya hanya sebesar biji kacang saat muncul pada tahun 1994, tapi kini ukurannya terus membesar hingga mengganggu hampir semua aktivitasnya. Dua kali ia mencoba operasi, namun semuanya gagal karena biaya yang tidak mencukupi dan risiko komplikasi. Sekarang, tumor itu bahkan memengaruhi penglihatannya dan membuatnya sulit menoleh saat menyetir angkot.
Setiap hari, sejak subuh hingga sore, ia tetap memaksakan diri menarik angkot. Sayangnya, hasil kerja kerasnya sering kali tidak mencukupi. Dari penghasilan rata-rata Rp150 ribu sehari, Rp100 ribu habis untuk bensin, Rp60 ribu harus disetor ke pemilik angkot, sehingga sering kali Bapak malah nombok atau pulang tanpa membawa apa-apa.
"Bapak kadang bingung. Buat makan aja susah, apalagi bayar kontrakan," ucapnya lirih.
Delapan bulan terakhir, Pak Maman akhirnya bisa menyewa kontrakan kecil seharga Rp300 ribu per bulan. Kata Bapak, sebelumnya, beliau harus tidur di emperan pasar, mushola, atau pinggir jalan selama bertahun-tahun.
Namun mirisnya, kontrakan yang ditinggalinya kini, kerap kali tak bisa bapak bayar.
“Saya kadang takut diusir, karena yang punya kontrakan seringkali menagih, tapi bapak cuma bisa bayar pake janji.. Kalau bapak diusir, ya kemungkinan bapak harus tidur di emperan lagi nak..” Ucapnya.
Yang menyayat hati, Pak Maman sudah hidup sebatang kara sejak 10 tahun lalu, setelah bercerai dari istrinya. Sang istri meninggalkannya karena tidak kuat menghadapi kondisi ekonomi yang sulit dan penyakit yang diderita Pak Maman.
“Gak apa-apa, Nak. Bapak sadar diri. Bapak nggak punya apa-apa. Istri bapak berhak bahagia,” katanya pasrah.
Bagi Pak Maman, angkot yang ia kemudikan setiap hari itu adalah satu-satunya harapan untuk bertahan hidup. Meski hasilnya seringkali tak cukup untuk sekedar membeli satu bungkus nasi, membayar kontrakan, apalagi berobat, namun beliau tetap pantang menyerah.
#TemanKebaikan, Pak Maman hanya ingin hidup layak. Tidak harus merasa lapar setiap hari, bisa membayar kontrakan tepat waktu, dan mendapatkan pengobatan yang layak untuk menyembuhkan tumor di lehernya. Namun, semua itu hanya mungkin terjadi dengan bantuan dari orang-orang baik.
Mari bersama kita ulurkan tangan untuk Pak Maman. Dengan sedikit bantuan, kita bisa meringankan beban beliau yang sudah bertahun-tahun bertarung melawan rasa sakit dan kesulitan hidup.
Halo #TemanKebaikan !
Lihat dan rasakan kebaikan dari kamu yang #BeneranBerdampak untuk semua di link berikut ini ya:)
https://sajiwafoundation.org/publications/sajiwa-news
Mengapa Sajiwa Foundation?
1. Pendampingan yang dilakukan merupakan bentuk Integrasi Kebutuhan Material dan Non Material
2. Memiliki Objektif pendampingan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound) yang disusun berdasarkan asesmen kebutuhan penerima manfaat.
3. Dijalankan dengan prinsip pertemanan yang menyenangkan.
4. Sajiwa Foundation terdaftar dan diawasi oleh Kemenkumham, Dinsos Kota Bandung dan Dinsos Jawa Barat.
5. Setiap bulan Sajiwa Foundation melaporkan Aktivitas Program dan Laporan Keuangan bulanan di laman website.
https://sajiwafoundation.org/
Jl. Atlas Raya No.21, Babakan Surabaya, Kec. Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat 40281
02220504715
Hubungi kami jika kamu ingin berkolaborasi lebih lanjut ke nomor resmi ini ya :)
085174166464

30 Tahun Tahan Sakit Tumor Bantu Supir Angkot Sembuh
terkumpul dari target Rp 70.000.000