
Sedekah Pak Suhardi untuk memenuhi kebutuhan Sehar-hari
terkumpul dari target Rp 75.000.000
Pak Suhardi, yang akrab dipanggil Pak Su atau Mang Su, kini berusia 56 tahun.
Ia tinggal sendirian di sebuah bangunan semi permanen yang dibangun warga di lahan bekas pemakaman umum, tepat di pinggir jalan tol.
Lahan tersebut pernah digusur untuk pembangunan tol namun akhirnya terbengkalai, sehingga warga setempat membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggal Pak Su.
Pak Su pernah tinggal bersama keluarganya, namun karena kondisi fisiknya yang berbeda—tubuhnya dipenuhi bintik-bintik penyakit yang membuatnya merasa minder—Pak Su memutuskan untuk pergi. Ia tidak ingin membuat keluarganya malu, lebih memilih hidup sendiri di tengah kesunyian. Orang tua Pak Su sudah tiada, dan tak ada lagi tempat untuknya mengadu.
Setelah itu, Pak Su sempat luntang-lantung selama dua bulan, tidur di pinggir jalan dengan tubuh menggigil karena tak punya tempat berlindung. Berkat kepedulian warga setempat, ia akhirnya mendapatkan tempat tinggal semi permanen, meski berada di bekas lahan kuburan.
Pak Su hidup dari hasil memulung, mencari barang-barang bekas seperti botol, plastik, dan kardus yang bisa dijual.
Setiap malam, ia berangkat pukul 7 dan pulang sekitar tengah malam, berjalan hingga puluhan kilometer di pinggir jalan raya untuk mengumpulkan rongsok.
Penghasilan Pak Su sangat minim—dalam tiga minggu, ia hanya mendapatkan sekitar Rp60.000.
Meski penghasilannya kecil, Pak Su tetap enggan mengemis atau meminta belas kasihan orang lain. "Saya malu kalau terus-terusan berada di posisi tangan di bawah," kata Pak Su.
Bahkan, ia terharu ketika seorang anak kecil pernah memberinya uang Rp50.000 dan menyampaikan, "Sehat-sehat ya, Pak."
Pak Su tidak menyerah. Di tengah keterbatasan, ia tetap berjuang keras. Namun, sekarang, ia sangat membutuhkan bantuan untuk biaya hidup dan kesehatannya.

Sedekah Pak Suhardi untuk memenuhi kebutuhan Sehar-hari
terkumpul dari target Rp 75.000.000