
Wujudkan Mimpi Kecil Zildan Yang Tertahan Luka Bakar
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Nek, Zildan ingin kaya teman-teman… punya tangan dan kaki yang bagus, biar bisa pakai sandal kaya mereka.”
Kalimat polos itu seharusnya terdengar biasa saja. Namun bagi Zildan (11), keinginan itu terasa begitu jauh dari genggaman. Luka bakar di tangan dan kakinya sejak usia 2 tahun membuat bentuk jari-jarinya berubah, kakinya sulit bergerak normal. Sandal atau sepatu hanyalah sesuatu yang ia lihat dari jauh, bukan yang ia kenakan.
Zildan tidak pernah mengingat wajah ibunya. Satu-satunya yang ia tahu hanyalah cerita dari neneknya tentang hari kelam ketika pabrik konveksi tempat ibunya bekerja terbakar.
Hari itu, ibunya tak tega meninggalkan Zildan di rumah, sehingga membawanya ke tempat kerja. Pagi berjalan biasa sampai api tiba-tiba menyambar, membakar kain dan bahan mudah terbakar. Di tengah kepanikan, ibunya berlari memeluk Zildan erat. Dengan sisa tenaga, ia mencoba menembus kepungan api. Nafasnya habis, namun cintanya tetap tak habis, ia menyerahkan hidupnya agar Zildan selamat.
Zildan hidup, tapi luka itu meninggalkan jejak yang tak pernah hilang. Luka bakar merusak tangan dan kakinya, meninggalkan cacat permanen. Sejak itu, dunia kecilnya berubah: berjalan menjadi susah, digandeng teman terasa asing, bahkan memakai sandal pun mustahil.
Kini, Zildan tinggal bersama neneknya yang hidup sederhana. Ayahnya sudah menikah lagi dan tinggal di luar kota. Sang nenek menjadi satu-satunya tempat ia bersandar, sekaligus sumber kekuatan untuk bertahan.
Setiap hari, Zildan membantu nenek berjualan keripik, gorengan, atau es keliling gang. Dengan kaki kecil yang sulit bergerak normal, ia tetap menenteng dagangan sambil tersenyum. Kadang, penghasilan mereka hanya Rp30.000 sehari, itu pun harus cukup untuk makan dan kebutuhan sekolah.
Meski begitu, Zildan tidak pernah berhenti bermimpi. Hampir setiap sore, ia menyempatkan diri pergi ke makam ibunya. Duduk lama di sana, seolah bercerita tentang harinya tentang lelah berjalan, tentang ejekan di sekolah karena kondisi tubuhnya, hingga tentang cita-citanya menjadi ustaz agar bisa mengajarkan kebaikan.
Sang nenek hanya bisa menahan air mata melihat cucu yang seharusnya berlari bebas, justru menunduk karena malu. Harapan nenek sederhana: agar Zildan bisa menjalani operasi, bukan sekadar demi penampilan, tetapi agar cucunya bisa bergerak lebih bebas, bisa memakai sandal, dan menjalani hidup tanpa rasa sakit.
Insan Baik, Hari ini kita bisa menjadi bagian dari doa yang setiap malam Zildan panjatkan.
Dengan bantuan kita, Zildan bisa menjalani perawatan dan operasi, melanjutkan sekolah, dan perlahan meraih mimpi kecilnya yang sederhana: memakai sandal seperti anak-anak lain.
Zildan tidak memilih untuk hidup dengan luka ini. Tapi kita bisa memilih untuk mengubah masa depannya. Donasi Anda bisa membantu biaya operasi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari Zildan. Mari bersama menjadikan langkah kecilnya sebagai jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pendidikan, pengobatan Zildan, dan kebutuhan sandang pangan. Juga akan disalurkan ke penerima manfaat serta program sosial kemanusiaan lainnya di bawah naungan Amal Baik Insani.

Wujudkan Mimpi Kecil Zildan Yang Tertahan Luka Bakar
terkumpul dari target Rp 50.000.000